Sebelum
masuk ke cerita di judul, ada yang mau gue omongin lebih dulu. Satu hal yang gue pelajari mengenai tulisan
di blog setelah intip-intip blogger lain yang lagi mandi di kali adalah, It doesn’t have to make sense. Mau nulis
apa aja itu suka-suka sang empunya blog, dan terkadang hal itu bisa jadi pedang
bermata dua. Ada yang tulisannya jadi sukses kayak bang Kambing yang akhirnya
berakhir menjadi sejumlah film, ada juga yang berakhir miris kayak blog pertama
gue yang ditinggal “main sabun”.
Karena gue manusia terhormat yang diberi anugerah luar biasa dari Tuhan untuk bisa punya lubang anus buat eek, gue nggak terlalu suka sama hal-hal yang nggak bisa dipikir pake akal waktu lagi eek. Jadi gue akan berusaha untuk menulis apa yang berdasarkan hal nyata dan masih dapat masuk diakal, namun dengan bumbu-bumbu penyedap cita rasa p*rnhub biar nggak ngebosenin.
Karena gue manusia terhormat yang diberi anugerah luar biasa dari Tuhan untuk bisa punya lubang anus buat eek, gue nggak terlalu suka sama hal-hal yang nggak bisa dipikir pake akal waktu lagi eek. Jadi gue akan berusaha untuk menulis apa yang berdasarkan hal nyata dan masih dapat masuk diakal, namun dengan bumbu-bumbu penyedap cita rasa p*rnhub biar nggak ngebosenin.
Oke balik ke maksud awal gue nulis kali
ini. Gue mau berbagi cerita dikit mengenai masa kecil. Sebenarnya waktu balita
gue ngerasa bahagia, mungkin karena selain belum tahu nafsu bejat dan birahi, Papa
Mama juga sayang banget sama gue. Walaupun berasal dari keluarga yang nggak
kaya, tapi gue seneng, karena gue terbilang nggak pernah kekurangan mainan.
Koleksi mainan gue sebenernya cukup banyak, tapi ada satu jenis mainan yang gue
punya jumlahnya sampai ratusan (sampai dinomerin sama Mama biar nggak hilang)
yaitu mainan hadiah Happy Meal dari McD. Tau kan kalau kita beli paket Happy Meal
kita bakalan dikasih mainan? Nah mainan itu yang gue koleksi. Nggak tau sejak
kapan tapi yang sepanjang gue inget, kalau ada mainan Happy Meal yang baru, gue
mesti ngerengek minta dibeliin. Sebenernya kalau dipikir kasihan sih sama ortu,
karena penghasilan mereka yang pas-pasan sebenarnya sulit buat memenuhi
keinginan gue waktu itu. Tapi ortu selalu berusaha biar gue bisa dapet mainan
yang gue mau, nggak tahu gimana caranya akhirnya terkumpulah ratusan mainan
Happy Meal itu.
Mainan-mainan Happy Meal itu bagai teman masa
kecil yang paling setia. Tiap hari gue selalu bermain dengan mereka. Cara gue
mainin mereka mirip dengan main boneka-bonekaan. Eits, tapi bukan kayak mainan Barbie rumah-rumahan masak-masakan
gitu ya, gue memperlakukan mereka bagai aktor dan aktris yang bermain dalam
suatu film (and yes, selalu ada
adegan ciuman, dan ya Mekel balita udah ngerti bagaimana itu ciuman). Jadi
setiap hari akan ada cerita-cerita baru yang gue “mainin” ke mereka. Mostly sih ceritanya klise, diawali
dengan petualangan, lalu mengalahkan penjahat, menyelamatkan putri, ciuman, dan
the end. Tapi menurutku, hal itu juga
yang membuat imajinasi gue sampai sekarang selalu liar dan tak terbatas, karena
dari kecil udah terlatih bikin cerita. Maybe
suatu saat nanti, gue bisa jadi Sutradara atau penulis skenario karena
pengalaman ini hehehe.
![]() |
| Nomor identitas di tiap mainan happy meal gue, ada angka dan hurufnya berarti mainannya terdiri atas lebih dari satu komponen |
Intinya masa balita sampai gue TK itu
bahagia karena adanya kasih sayang orang tua dan mainan-mainan Happy Meal yang dikoleksi
sampai gue kira-kira kelas 3 SD itu (berhenti karena selingkuh dengan PS1 .red).
Namun masuk SD, gue mulai mengenal JAHATnya dunia. For the record, gue ini nggak lulus TK dan nggak pernah punya
ijasah TK. Bukan karena gue idiot atau psikopat cilik, tapi karena mama dan
apho (panggilan untuk nenek di keluarga mama, and yes they’re Chinese) mengganggap
bahwa didikan keras mama supaya gue bisa membaca dan menulis dengan lancar itu,
lebih ampuh daripada didikan guru TK gue. Alhasil setelah nol kecil gue
langsung lompat ke kelas 1 SD, nggak pake nol besar. Karena didikan keras mama yang gue bilang tadi, gue nggak
mengalami kesulitan dengan pelajaran kelas 1 walaupun nggak pake nol besar.
“Kok bisa gitu (me)mek? Emang ada SD yang
mau nerima anak nggak lulus TK?”
ADA! Dan SD itu adalah salah satu SD
Katolik yang ada di Kendari, Sulawesi Tenggara, tempat keluarga mama berasal.
Jadi ceritanya setelah masa TK yang singkat di Sidoarjo, gue diminta ke Kendari
buat sekolah disana, sekalian mendekatkan diri dengan keluarga mama. And karena gue masih kecil dan ingusan,
gue ikut-ikut aja kemana angin (baca: mama) bertiup. Jadi gue sempet sekolah
disitu satu cawu (belum jamannya semesteran) dan punya kehidupan normal yang
bahagia, bahkan sempet terima raport disana, and walaupun nggak punya ijasah TK layaknya temen-temen yang lain,
gue ternyata berhasil meraih ranking.
Karena satu dua hal, pas cawu kedua kelas 1 SD, gue balik lagi ke Sidoarjo. Beda halnya dengan di Kendari dimana gue masuk sekolah bagus karena dibayarin apho, di Sidoarjo ortu harus menyekolahkan gue sendiri. Akhirnya gue masuk ke salah satu SD Negeri di kampung yang letaknya cukup jauh dari rumah, yang uang sekolahnya dirasa sesuai dengan kondisi ekonomi ortu saat itu. Nama sekolahnya bakalan gue rahasiakan sekarang, yang penting kondisi SD gue saat itu bisa dibilang jauh dari layak. Untungnya gue saat itu masih belum ngerti-ngerti apa, jadi ya fine-fine aja, lagipula gue juga nggak terbiasa sama sekali hidup mewah. Satu hal yang paling kentara dari SD itu adalah, sangat berPASIR dan berDEBU. Maklum lapangan tengah yang biasa buat upacara dan main bola sepenuhnya adalah pasir dan tanah, tanpa ada paving atau rumput. Dan karena gedung SD gue itu dari setiap pintu kelas langsung berhadapan dengan lapangan tengah, serta terdiri dari satu tingkat doang berbentuk letter L, pasir dan debu itu selalu masuk ke gedung sekolah. Baik di depan maupun di dalam kelas, semua penuh dengan pasir dan debu, dan itu nggak sedikit, tapi buanyaak. Disapu berapa kali pun rasanya juga nggak akan pernah bersih. Selain lingkungan dan infrastruktur sekolah yang nggak mumpuni, ada hal lain lagi yang lebih menganggu. Yaitu SISWAnya alias temen-temen gue. Inilah sumber penderitaan gue selama SD, temen-temen gue hampir semuanya (sorry for not sorry) orang kampung, alhasil gue yang waktu itu nggak bisa bahasa jawa, anak rumahan dan berkulit putih sendiri karena orang keturunan, jadi objek pelecehan verbal dan fisik. Bukan gue sombong atau belagu, sampai sekarang pun gue juga bukan orang kaya, gue masih tinggal di rumah tua lama gue yang juga dihuni nggak cuman sama keluarga gue, tapi juga sama eyang dan saudara-saudara gue yang lain (hal ini bakalan gue ceritain di post-post selanjutnya), gue juga nggak bisa setiap hari pergi ke mall atau hura-hura, bahkan baju-baju gue pun nggak ada yang bagus-bagus amat.
![]() |
| SD gue di Sidoarjo dilihat dari Google Maps (kondisinya sekarang lebih bagus, syukur deh) |
Balik lagi ke masalah gue yang jadi objek
penindasan secara jasmani dan rohani. Seperti yang udah dibilang diawal, gue
lebih suka main dengan koleksi mainan Happy Meal gue, dengan cara gue sendiri.
Gue bukan tipe bocah yang suka main sepak bola di luar, dan sepupu teman
sepermainan yang waktu itu semuanya cewek (gue cucu cowok pertama baik di
keluarga papa maupun mama) tidak banyak membantu perkembangan gue untuk
berperilaku umumnya anak laki-laki seusia gue saat itu. Apalagi sejujurnya gue
juga nggak terlalu dekat sama papa atau om-om saudara, dan lebih banyak diasuh
oleh mama dan tante-tante saudara. Satu dua hal tersebut kemudian membuat
teman-teman SD (terutama yang cowok) beranggapan bahwa gerak-gerik gue “aneh”.
“Lanang
kok ora isa dolanan bal-balan! Ancene BENCONG!” (Anak cowok kok nggak bisa main
sepak bola! Dasar BANCI)
Yup, gue dipanggil seperti itu waktu SD.
Sering malah. Gue benci banget sama panggilan itu. Gue sempet berontak, tapi
ujungnya malah ditindas secara fisik. Alhasil gue cuman bisa menerima dan
memendam dalam hati.
Gue yang waktu itu masih kecil, dicerca
secara terus-menerus seperti itu di sekolah, tentu akhirnya berdampak ke
kejiwaan. Bayangin kelas 4 SD gue udah pengin mengakhiri hidup karena nggak
tahan dihina terus. Gue trauma, dan juga nggak tau kenapa setiap harinya masih
berani datang ke sekolah. Gue pernah minta pindah sekolah, ditanyain alasannya
apa, ya nggak berani jawab, akhirnya ortu menolak memindahkan. Guru-guru juga
nggak banyak membantu, malah guru olahraga gue, melihat gue yang emang nggak
bisa olahraga, juga semakin memperparah keadaan dengan menertawakan gue setiap
pelajaran olahraga. Gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa karena malu, dan
setiap hinaan itu akhirnya berdampak sampai sekarang, terutama dari segi
kejiwaan gue (Dampaknya mungkin bisa gue certain lain kali, sekarang fokus dulu
ke masa kecil gue).
Keluarga gue, entah karena menerima gue apa
adanya atau emang nggak peduli, tetap membiarkan gue sebagaimana adanya. Nggak
ada yang pernah maksa buat main sepak bola atau melakukan kegiatan-kegiatan yang
menurut temen-temen gue wajib hukumnya dilakukan anak laki-laki. Dan untungnya
kegoncangan batin gue nggak menghalagi gue untuk punya teman, ada juga yang
baik yang mau ngebelain, ya jadi setidaknya gue nggak sendirian amat waktu SD.
Walaupun terkadang mereka masih meledek gue “BENCONG”, tapi mereka tetap mau
main sama gue. Sebenernya gue tetep nggak suka, tapi daripada nggak punya
teman? Jumlah yang mau berteman sama gue
pun semakin bertambah , bahkan gue sempat punya cerita cinta monyet penuh surat-menyurat
pas SD (kapan-kapan gue ceritain). Akhirnya waktu gue lulus, beban hidup
rasanya jadi lumayan berkurang (Dan sekarang akhirnya gue nggak pernah kontak
lagi sama temen-temen pas SD).
Alasan sebenernya cerita kayak gini, selain
curhat, karena gue tau gue nggak sendirian. Pasti banyak banget orang diluar
sana yang mengalami nasib yang sama. Di bully
terus menerus secara verbal atau fisik karena kekurangan atau ke”aneh”an
diri kita. Well, ada satu hal yang
gue mau sampaikan pada kalian. Marilah berdamai dengan masa lalu tersebut.
Memang sakit dan menyisakan luka yang mendalam bahkan mungkin nggak akan pernah
hilang (gue sampai sekarang sebenernya masih marah dan sakit hati kalau
diidentikan dengan perempuan) tapi kita juga harus ingat, nggak ada gunanya
juga terjebak di masa lalu.
Kalau kalian pernah pengin balas dendam,
mending balas dendam secara positif aja. Jadikan motivasi supaya hidup jadi
lebih baik, nggak usah sampai berniat ngebunuh atau apa (yup gue pernah berpikir
begitu, maklum bakat psikopat). Buktikan sama mereka bahwa kita para korban
bullying nggak seperti yang mereka kira, dan tentu aja bisa lebih baik dari
mereka. Tapi ingat juga, kita nggak boleh berakhir jadi kayak mereka,
mentang-mentang bisa lebih baik, akhirnya gantian kita yang menindas. Kalau
kayak gitu, nggak ada bedanya kita sama mereka. Menurut gue balas dendam paling
manis adalah saat seseorang melakukan kebaikan pada orang yang pernah
menyakitinya. Dengan begitu aja sebenernya kita udah menang telak.
![]() |
| Salah satu cara balas dendam gue, menangin penghargaan di kampus karena prestasi akademik dan keaktifan organisasi (congkak dikit) |
Kita semua waktu itu juga masih kecil, apa
yang kita lakukan dan katakan itu sepenuhnya pengaruh lingkungan sekitar kita
sehari-hari. Termasuk teman-teman yang menindas kita waktu kita kecil dulu,
mereka hanya mencontoh apa yang mereka lihat dan pelajari, jadi itu sepenuhnya
bukan salah mereka. Apalagi waktu kecil, kita juga tidak bisa berpikir, apakah
hal yang kita katakan atau lakukan akan menyakiti orang atau tidak. Ingat,
tidak semua orang mendapat pengajaran yang baik dan cinta kasih dari orang tuanya.
Jadi pasti ada sesuatu yang mungkin tidak bisa kita lihat waktu dulu kita masih
kecil, namun terasa begitu jelas ketika sudah dewasa dan mengerti seperti
sekarang.
Dalam kasus gue, karena temen-temen gue
kebanyakan warga kampung sekitar (dimana masih sangat tradisional banget),
mungkin hiburan buat anak laki-laki bagi mereka hanya main bola, sedangkan anak
perempuan membantu ibu di rumah. Sehingga dalam benak mereka hanya anak
perempuan saja yang tidak bisa main sepak bola, semua anak lelaki harus bisa
main bola. Sedangkan gue di rumah punya mainan banyak dan TV yang bisa
ditonton, sehingga gue nggak tertarik atau merasa perlu bermain bola. Dua
budaya yang bertolak belakang ini lah mungkin yang menimbulkan masalah penyematan
gelar BENCONG buat gue (gue bukan anak psikologi sih, nebak-nebak aja hehehe).
Kalau sampai sekarang kalian masih di
bully, secara verbal seperti diberi julukan misalnya, dan kalian sakit hati,
daripada dibawa pikiran, lebih baik langsung ngomong aja kalau kalian nggak
suka, tapi secara baik-baik. Kalau memang orang baik, pasti mengerti dan nggak
ngulangi lagi, tapi kalau ternyata kamu masih sengaja diledek walaupun kamu
sudah mengatakan perasaanmu, yah setidaknya sekarang kamu tahu siapa sebenarnya
orang itu dan tinggal menjauhinya. Spend
your time only with them who worth it!
Well, disini gue juga tidak ada maksud sama sekali merendahkan kaum waria
atau perempuan. Bukan karena gue
merasa derajat pria lebih tinggi dari waria atau perempuan sehingga gue marah
dijuluki bencong atau diledek seperti perempuan. Gue marah, karena itu memang
bukan diri gue. Gue marah karena gue tahu maksud mereka yang meledek itu buat
merendahkan. Gue marah karena memang sudah seharusnya gue marah. Tapi menurut
gue setiap orang itu sebenernya sama semua, nggak peduli gender, ras, agama,
suku, bahkan orientasi seksual, karena semua itu bukanlah pilihan yang bisa
kita tentukan saat kita lahir.
Salam terhangat..



